Stay informed on our news or events!

post

Howard Gardner, psikolog penemu multiple intelligences, merasa bahwa tujuh kecerdasan saja tidak cukup, dalam buku terakhirnya, Intelligence Reframed, ia menambahkan tiga kecerdasan yang tidak kalah pentingnya; kecerdasan naturalis, kecerdasan eksistensia, dan kecerdasan spiritual,( Gardner, 1999: 47). Penambahan ini menarik karena makin banyak kecerdasan manusia yang terkuak, makin lengkap potensi yang dimiliki makhluk ini diketahui. Yang paling penting, Gardner makin menyadari bahwa ada aspek spiritual dalam kecerdasan manusia.

Setidaknya ada empat bukti penelitian yang memperkuat dugaan adanya potensi spiritual dalam otak manusia; 1) Osilasi 40 Hz yang ditemukan oleh Denis Pare dan Rodolfo Llinas, yang kemudian dikembangkan menjadi spiritual intelligence oleh Danah Zohar dan Ian Marsall, 2)Alam bawah sadar kognitif yang ditemukan oleh Josep deLoux dan kemudian dikembangkan menjadi emotional inlligence oleh Daniel Goleman dan Robert Cooper dengan konsep suara hati, 3) God Spot pada daerah temporal yang ditemukan oleh Michael Persinger dan Vilyanur Rama Chandran, dan 4) Somatik Marker oleh Antonio Damasio. Keempat bukti ini memberikan informasi tentang adanya hati nurani atau intuisi dalam otak manusia. Dengan kata lain penelitian itu memperkuat keyakinan bahwa manusia itu tidak mungkin lari dari tuhan.

Berkaitan dengan Al Qur’an ada empat sinyal yang merupakan penanda adanya perhatian terhadap potensi dan aktualisasi fungsi otak manusia. Pertama, melalui penyebutan nasyiyah ( lihat surat Al Alaq : 96; 15-16) untuk bagian kepala yang berhubungan dengan perilaku “pendusta” atau “pendurhaka”. Kata itu disebut sebanyak dua kali dan secara harfiah berarti “ubun-ubun” atau “jidat”. Gelar pendusta atau pendurhaka disebut sehubungan dengan perilaku yang jelek yang dimiliki oleh orang-orang jahiliyah penentang Nabi Muhammad Saw. Para pendurhaka itu akan dihukum oleh Allah melalui tarikan kuat pada ubun-ubun mereka laiknya seekor kuda yang ditarik jambulnya.

Tarikan pada daerah jidat itu cukup beralasan dari segi organisasi otak manusia. Lobus Frontal dan daerah freprontal memang terletak di belakang nafsiyah itu. Seperti kita ketahui, daerah itu bertanggung jawab untuk kegiatan intelektual tingkat tinggi dan kesadaran moral manusia, juga daerah yang bertanggung jawab untuk perasaan-persaan mistis.

Kedua, melalui kata qalb dan aql, kata aql disebut sebanyak 49 kali, yang semuanya berbentuk kata kerja (fi’il). Jalur yang dipilih al qur’an itu memiliki dua ujung; ia menyebut akal sebagai alat bagi manusia untuk memahami alam semesta dan sekaligus akal sebagai alat ruhani manusia untuk menuju tuhan. Jika akal berfungsi baik, manusia akan menjadi makhluk yang berkesadaran tinggi. Penyebutan dengan bentuk kata kerja menunjukkan fungsionalisasi dari akal itu dengan kata lain bentuk kata kerja itu dipakai untuk memberi penekanan pada fungsi otak, bukan pada otak secara structural. Cara kerja dalam tingkatan fungsi otak, mula-mula yang dipakai adalah otak rasional yang dipakai, bila otak ini menemui jalan buntu dalam memecahkan masalah, tugas akan diambil alih oleh otak intuitif . jika otak kedua masih gagal maka allah akan bermurah hati memberi informasi yang akurat melalui otak spiritual.

Kata yang lain, tetapi semakna, yakni al qalb, jika porsi kata aql diperbanyak pada usaha sains, maka kata qalb dibanyakkan pada usaha-usaha ruhani. Proporsi objek kedua kata itu menunjukkan porsi mana yang terbanyak, kata qalb juga membawa makna kesatuan antara kegiatan sains dan kegiatan ruhani, yang artinya juga, ketidakterpisahan antara ilmu dan agama. Contoh seperti kasus ahli hadis terkenal imam bukhori yang menjadi tolak ukur keterkaitan antara sain dan ruhani, Shahih Bukhari merupakan kitab yang unggul dari segi keaslian dan kemurnian hadist ( karena itu disebut shahih bukan sunan) mengapa demikian?. Bukhari menggunakan tiga tahap penelurusan kemurnian hadis, pendekatan aqliyah, naqliyah dan kasfiyah. Pendekatan pertama menggunakan seluruh daya rasional otak, pendekatan kedua merujuk pada kesesuain nash al qur’an dan pendekatan ketiga melalui shalat istikharoh untuk menentukkan laik atau tidaknya sebuah hadis diabsahkan dalam sebuah kitab. Hal ini juga dilakukan oleh ibnu sina dalam memecahkan masalah sains dan imam al ghazali ketika menulis kitab filsafat Tahafut al Falasifah.

Ketiga, melalui pernyatan lugas “Kitaban Yalhaqu Mansyuraa” (sebuah gulungan yang terbentang luas) (lihat surat al Isra’; 17:13) untuk melukiskan wahana pertanggung jawaban manusia di akhirat nanti.