Stay informed on our news or events!

post

Ratibul Haddad

karya Habib  Abdullah bin ‘Alawi bin Muhammad al-Haddad.

Dzikir memiliki arti mengingat sang pencipta semesta alam Allah SWT. Tujuan utama dari dzikir adalah mengingat terhadap dzat sang pencipta Allah SWT. Denga dzikir, hati kita akan tenng, tentram dan damai. Sebagaimana Allaah SWT berfirman dalam Alqur`an:

  “Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram” (QS. Ar-Ra’d: 28).

Terdapat banyak sekali bacaan-bacaan dzikir yang kita dengar atau yang kita amalkan saat ini. Sebgaian ulama juga mengamalkan dzikir-dzikir yang bersumber dari Nabi Muhammad SAW atau yang biasa kita dengar dengan dzikir ma`tsur. Selain itu juga , sebagian ulama pula melaksanakan dzikir-dzikir yang telah disusun oleh ulama-ulamaterkemuka  terdahulu  yang memiliki faedah dan rahasia (Sirr) tersendiri bagi yang mengamalkannya.

Salah satu dzikir yang umumnya diamalkan oleh masyarakat muslim secara luas adalah Ratibul Haddad. Ratib ini disusun oleh salah satu ulama terkemuka didunia yang berasal dari Hadramaut, Yaman, yakni Habib  Abdullah bin ‘Alawi bin Muhammad al-Haddad.Beliau adalah seoarang ulama mujaddid (pembaharu) pada masanya. Karya-karya beliau tersebar diberbagai belahan dunia yang diantaranya adalah an-Nashaih ad-Diniyah, Risalah al-Mu’awanah, an-Nafais al-‘Alawiyah fi al-Masa’il as-Shufiyah.

LATAR BELAKANG 

Ratibul Hadad disusun pada tahun 1071 Hijriah, bermula ketika para pemuka Hadramaut merasa khawatir akan masuknya kelompok Syiah Zaidiyah di wilayah Hadramaut. Mereka khawatir aqidah Syiah Zaidiyah akan mempengaruhi terhadap keyakinan orang awam yang sejak lama berpegang teguh pada aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah yang telah diajarkan oleh para Salafus Shalih.

Berdasarkan hal ini, mereka menghadap kepada al-Qutb  Al Habib Abdullah bin ‘Alawi bin Muhammad al-Haddad agar diberi bacaan supaya hal yang mereka khawatirkan tidak terjadi. Beliau pun menuliskan wirid yang nantinya dikenal dengan nama Ratibul Haddad ini. Semenjak saat itu, bacaan Ratibul haddad banyak dibaca di berbagai tempat di berbagai belahan dunia, sampai saat ini.   Ratibul Haddad ini sangat dianjurkan dibaca secara bersama-sama dalam majelis dzikir. Sedangkan ketentuan waktu membacanya dijelaskan dalam penjelasan berikut: 

 “Sebaiknya seorang murid yang sungguh-sungguh membaca ratib ini, terlebih ketika penyusun ratib ini merupakan perantara baginya menuju Allah ta’ala. Membaca ratibul haddad ini setelah shalat isya’ dan subuh adalah cara membaca yang paling sempurna, namun membaca ratib ini satu kali dalam sehari semalam dianggap cukup, yang paling utama dilakukan setelah melaksanakan shalat isya’. Sedangkan di bulan Ramadhan, membaca ratib ini didahulukan dari pelaksanaan shalat isya’” (Syekh Abu Bakar bin Ahmad al-Maliabar, al-Imdad bi Syarhi Ratib al-Haddad, Hal. 55)

FAEDAH DAN KEUTAMAAN  RATIBUL HADAD

 Faedah dari membaca Ratibul Hadad ini terbilang cukup banyak, berikut di antara berbagai fadilah istiqamah mengamalkan ratibul haddad

 “Beberapa faedah Ratibul hadad di antaranya, penjelasan yang dikutip dari para ulama yang mensyarahi Rotib ini dari penyusun Ratib, Syekh Abdullah bin ‘alawi al-Haddad Radliyallahu ‘anhu bahwa orang yang rajin membaca rotib ini maka Allah akan menjaga negaranya dari beberapa cobaan dan siksaan. Faedah lainnya, bertambahnya kekayaan, barokah dan kebaikan di rumahnya. Orang yang rajin membaca Ratibul Haddad setiap hari, maka tidak akan bahaya baginya racun, hewan buas, reptil dan hewan-hewan lainnya. Faedah yang lain dari membaca rotib ini bahwa akan hasil baginya husnul khotimah dan Allah akan memberikan pertolongan baginya untuk mengucapkan kalimat syahadat (di Akhir Hayatnya)” (Syekh Abu Bakar bin Ahmad al-Maliabar, al-Imdad bi Syarhi Ratib al-Haddad, hal. 56)  

 

 

Tim Markom MTs-PPTQ Assalaam