Stay informed on our news or events!

post

Apa yang terlintas di pikiran kita ketika mendengar kata “rezeki”?,
Ya, kebanyakan dari kita akan membayangkan sesuatu yang identik dengan sesuatu yang sifatnya materi, semisal uang, pakaian, rumah, kendaraan dan benda-benda berharga lainnya yang umumnya kita semua menginginkannya. Namun alangkah sempitnya jika kata rezeki di terjemahkan hanya dengan hal-hal yang sifatnya materi saja, padahal rezeki yang Alloh karuniakan kepada kita sangatlah luas sebagaimana tertuang di dalam Al-Quran bahwa jika kita hendak memperhitungkan rezeki dari Alloh maka kita tidak akan mampu menghitungnya.

Allah Ta’ala berfirman di dalam surat Ar Ruum ayat 40 : “Allah-lah yang menciptakan kamu, kemudian memberimu rezeki, kemudian mematikanmu, kemudian menghidupkanmu (kembali). Adakah di antara yang kamu sekutukan dengan Allah itu yang dapat berbuat sesuatu dari yang demikian itu? Maha Sucilah Dia dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan.”

Dari ayat di atas Alloh telah menjanjikan jaminan pada setiap makhluk ciptaan Nya terkait rezekinya masing-masing tanpa harus takut kekurangan apapun, dalam hal ini hanya saja bagaimana kita berusaha menjemput rezeki yang telah Alloh sediakan. Allah Ta’ala senantiasa memberi rezeki kepada setiap makhluk-Nya, rezeki-Nya amat luas, tidak terbatas pada materi melimpah, melainkan bisa juga berupa nikmat-nikmat berharga lainnya yang ada di sekitar kita, di antaranya Hidayah, Ketenangan hati, Kelapangan dada, Kesehatan, Keadaan menyenangkan, Waktu luang, Jiwa yang kaya karena senantiasa merasa cukup, Anak-anak yang shalih, Kehidupan yang layak, Menantu dan mertua yang bijak Jodoh idaman dan lain-lain.

Dari uraian di atas kita tahu rezeki itu nyata adanya, namun yang sering dilupakan oleh kebanyakan dari kita adalah dengan cara apa kita memperoleh rezeki, dan bagaimana kita memanfaatkannya. Karena yang terpenting terkait masalah rezeki adalah bahwa semua yang Alloh karuniakan kepada kita sekecil apapun itu maka akan dimintai pertanggungjawabannya kelak di akhirat. Oleh karena itu penulis menyimpulkan bahwa hakikat dari rezeki adalah : “SEGALA SESUATU YANG MEMBAHAGIAKAN HATI SELAMA TIDAK MENYALAHI HUKUM SYARA”. Karena pada kondisi sesulit apapun jika hati kita menerimanya dengan senang hati maka tidak akan menjadi beban, bahkan sebaliknya hal itu akan kita yakini sebagai proses ujian yang harus dijalani. Dengan demikian kita akan lebih berpikir positif ketika di benturkan dengan problem- problem kehidupan dunia, karena kita akan sadar bahwa Alloh sudah mengatur segalanya
dengan sedemikian rupa sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan kita.

Penulis : Al Ustadz Cecep Masluh, S.H.