Stay informed on our news or events!

post

Al-Quran merupakan firman Allah yang di dalamnya terdapat petunjuk dan hidayah bagi ummat manusia. Kitab ini menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa pengantarnya. Selain karena nabi yang membawa kitab ini berbahasa Arab,bahasa Arab juga diakui mempunyai tingkat balâghah yang tinggi, sensitifitas dalam hermeneutiknya, mempunyai ragam gaya bahasa dan mempunyai kosa kata yang sangat kaya.Alquran mempunyai kemukjizatan yang sangat tinggi, baik pada tataran isi maupun bahasa yang digunakannya. Ketinggian bahasa Alquran dapat kita lihat pada aspek pemilihan fonem, pemilihan kata-kata, pilihan kalimat dan efek yang ditimbulkannya, serta adanya deviasi.Pada aspek pemilihan fonem-fonem, Zarqani (t.t) berkata, “Yang dimaksud dengan keserasian dalam tata bunyi Alquran adalah keserasian dalam pengaturan harkat (tanda baca yang menimbulkan bunyi a, i dan u), sukun (tanda baca mati),mad (tanda baca yang menimbulkan bunyi panjang), dan ghunnah sehingga enak untuk didengar dan diresapkan”.Adanya keserasian dalam pemilihan fonem-fonem yang dipilih Alquran dapat kita lihat dan kita rasakan ketika mendengar bacaan ayat Alquran yangdibaca dengan baik dan benar. Huruf-hurufnya seolah menyatu, perpindahan dari satu nada ke nada berikutnya sangat bervariasi, sehingga terasa adanya variasi yang menarik. Hal ini muncul sebagai akibat permainan huruf konsonan dan vocal yang dilengkapi dengan pengaturan harakat, sukun, mad  dan ghunnah.

Untuk contoh ini kita bisa lihat surah al-Kahfi ayat 9-16. Pada akhir ayat-ayat tersebut diakhiri dengan bunyi ‘a’ namun diiringi dengan konsonan yang bervariasi,sehingga menimbulkan hembusan suara yang berbeda, yaitu ba, da, ta, dan qa.

Keserasian bunyi pada akhir ayat Alquran dapat dikelompokkan kepadatiga kategori, yaitu: Pertama. Pengulangan bunyi huruf yang sama, seperti pengulangan huruf ra dan ha pada surah al-Qamar (54:33-41), al-Insan (76:1-13), ‘Abasa (80:17-23), dan al-Syams (91:11-15).2. Kedua, Pengulangan bunyi lafal, seperti pengulangan lafal al-thâriq, kaidâ, dakkâ,soffâ, ahad  dan ‘ aqabah pada surah al-Thâriq (86:1-2, 15-16), al-Fajr (89:21-22, 25-26), dan al-Balad (90:11-12). Ketiga, Pengulangan bunyi lapal yang berhampiran, seperti pengulangan bunyi tumisat, furijat, nusifat, uqqitat, ujjilat, gharqâ, nasytâ, sabhâ, sabqâ, amrâ, râjifah,râdifah, wâjifah, khâsyi’ah, hârifah, suyyirat, uttilat, sujjirat, dan zuwwijat pada surah al-Nâzi’ât (79:1-5, 6-10), al-Takwîr (81: 3-12).

Selain tampaknya keindahan bunyi, pemilihan fonem-fonem tertentu pada ayat Alquran juga memiliki kaitan atau efek terhadap maknanya. Mahmud Ahmad Najlah (1981: 341) dalam bukunya Lughah Alquran al-Karîm fi Juz ‘Amma mengkaji huruf sin pada surah al-Nâs terutama pada ayat 5 dan 6. Huruf sin termasuk konsonan frikatif. Konsonan ini diucapkan dengan cara mulut terbuka, namun harus dengan menempelkan gigi atas dengan gigi bawah pada ujung lidah.Huruf ini dipilih dengan tujuan untuk memberi kesan bisikan seperti makna yang terdapat pada kedua ayat tersebut. Dalam sejarah ada seorang yang bernama Musailimah al-Kadzdzâb. Dia mencoba menyusun Alquran tandingan denganmembuat ayat-ayat yang huruf akhirnya mirip. Akan tetapi dia hanya menirubunyi dan irama Alquran, dia tidak mampu meniru efek bunyi-bunyi tersebut terhadap maknanya.

 

Penulis :M. Abdul Basyit, M.Pd.I.